Sabtu, 15 Oktober 2011

KEKUATAN ENERGI SHOLAT

KEKUATAN ENERGI SHOLAT

Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi manusia. (QS. Ali Imran: 96)

Kita mungkin pernah bertanya kenapa harus solat menghadap Kiblat, juga kenapa harus ada Ibadah Thawaf, Ini juga sering jadi perenungan manusia, seperti ini :

1. Ketika mempelajari Kaidah Tangan Kanan (Hukum Alam), bahwa putaran energi kalau bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, maka arah energi akan naik ke atas akan naik ke atas. Arah ditunjukkan arah 4 jari, dan arah ke atas ditunjukkan oleh Arah Jempol.



2. Dengan pola ibadah thawaf dimana bergerak dengan jalan berputar harus berlawanan jarum jam, ini menimbulkan pertanyaan, kenapa tidak boleh terbalik arah, searah jarum jam misalnya.

3. Kenapa Solat harus menghadap Kiblat, termasuk dianjurkan berdoa dan pemakaman menghadap Kiblat

4. Kenapa Solat Di Masjidil Haram menurut Hadist nilainya 100.000 kali dari di tempat sendiri.

5. Singgasana Tuhan ada di Langit Tertinggi

Perenungan Sintesa :

1. Energi Solat dan Doa dari individu atau jamaah seluruh dunia terkumpul dan terakumulasi di Kabah setiap saat, karena Bumi berputar sehingga solat dari seluruh Dunia tidak terhenti dalam 24 jam, misal orang Bandung solat Dzuhur, beberapa menit kemudian orang Jakarta Dzuhur, beberapa menit kemudian Serang Dzuhur, Lampung dan seterusnya. Belum selesai Dzuhur di India Pakistan, di Makasar sudah mulai Ashar dan seterusnya. Pada saat Dzuhur di Jakarta di London Sholat Subuh dan seterusnya 24 jam setiap hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya.

2. Energi yang terakumulasi, berlapis dan bertumpuk akan diputar dengan generator orang-orang yang bertawaf yang berputar secara berlawanan arah jarum jam yang dilakukan jamaah Makah sekitarnya dan Jamaah Umroh / Haji yang dalam 1 hari tidak ditentukan waktunya.

3. Maka menurut implikasi hukum Kaidah Tangan Kanan bahwa Energi yang terkumpul akan diputar dengan Tawaf dan hasilnya kumpulan energi tadi arahnya akan ke atas MENUJU LANGIT. Jadi Sedikit terjawab bahwa energi itu tidak berhenti di Kabah namun semuanya naik ke Langit. Sebagai satu cerobong yang di mulai dari Kabah. Menuju Langit mana atau koordinat mana itu masih belum nyampe pikiran saya. Yang jelas pasti Tuhan telah membuat saluran agar solat dan doa dalam bentuk energi tadi agar sampai Ke Hadirat Nya. Jadi selama 24 Jam sehari terpancar cerobong Energi yang terfokus naik ke atas Langit. Selamanya sampai tidak ada manusia yang solat dan tawaf (kiamat?).



Kesimpulan

1. Solat dan Doa, diyakini akan sampai ke langit menuju Singgasana Tuhan selama memenuhi kira-kira persyaratan uraian di atas dengan sintesa (gabungan/Ekstrasi) renungan hukum agama dan hukum alam, karena dua-duanya ciptaan Tuhan juga. Jadi hendaknya ilmuwan dan agamawan bersinergi/ saling mendukung untuk mencapai kemaslahatan yang lebih luas dan pemahaman agama yang dapat diterima lahir batin

2. Memantapkan kita dalam beribadah solat khususnya dan menggiatkan diri untuk selalu on-line 24 jam dengan Tuhan, sehingga jiwa akan selalu terjaga dan membuahkan segala jenis kebaikan yang dilakukan dengan senang hati (iklas).

3. Terjawablah jika sholat itu tidak menyembah batu (Kabah) seperti yang dituduhkan kaum orientalis, tapi menggunakan perangkat alam untuk menyatukan energi solat dan doa untuk mencapai Tuhan dengan upaya natural manusia.

4. Tuhan Maha Pandai, Maha Besar dan Maha Segalanya

Ini sekedar renungan dan analisa , semoga saja mampu memotivasi kita dan para Pakar untuk memicu pemikiran, penelitian lebih dalam untuk lebih mempertebal keimanan dan menjadi saksi bahwa Tuhan menciptakan semesta dengan penuh kesempurnaan tidak dengan main-main (asal jadi) sehingga makin yakin dan cinta pada Tuhan Yang Maha Esa. Mungkin renungan ini berlebihan dan berfantasi, tapi sedikitnya ini pendekatan yang mampu menjawab pertanyaan sebagaimana di atas dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci dan Hadist bahkan mendukungnya. Semoga bermanfaat...

Ramalan Untuk Memastikan Bahwa Ka'bah Dan Kiamat hanya Allah Yang Tahu :

1. Ka'bah Akan Hancur Dengan Sendirinya (Terbukti dengan ditenggelamkannya satu pasukan yang akan menyerang ka'bah suatu hari nanti)

2. Jika Pusat Bumi Bergeser Akan Banyak Kekacauan (seperti Musim Yang tidak Mengenal waktu)

3. Kiamat Akan Cepat Terjadi Jika Sholat Sudah Ditinggalkan

4. Anda Pasti Juga pernah mendengar jika Siapa Yang Meninggalkan sholat berarti telah merobohkan Agama.


Kamis, 13 Oktober 2011

Tubagus Muhammad Athif bin Sultan Ageng Tirtayasa

Tubagus Muhammad Athif bin Sultan Ageng Tirtayasa (di Serpong, Tangerang)

Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa adalah seorang di antara putra Sul-tan Abdul ma’ali Achmad dan perkawinannya dengan Ratu Mar-takusuma, seperti diketahui Sultan Abdul Ma’ali Achmad adalah putra Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir yang memenintah Banten 1596-1651. Dan catatan sejarah diketahui bahwa Ratu Martakusuma adalah seorang putri dan Pangeran Jakarta Wijayakrama. Pada waktu muda ia bergelar Pangeran Surya, adapun saudara seayah dan seibu dan Pangeran Surya adalah Ratu Kulon, Pangeran Kulon, Pangeran Lor dan Pangeran Raja. Adapun saudara-saudara yang seayah saja ialah Pangeran Wetan, Pangeran Kidul dan Ratu Tinumpuk.

Setelah Pangeran Surya itu diangkat oleh kakeknya sebagai Sultan Muda pengganti ayahnya yang wafat, maka ia diberi gelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Pangeran Ratu diangkat menjadi Sultan pengganti kakeknya yang bernama Abdul Mafakir Mahmud Abdul Kadir (Uka Tjandrasasmita. 1967:8). Sejak ia memegang tampuk pemerintahan serta sudah niendapat restu dan Mekkah, ia mendapat gelar Sultan Abul Fath Abdul Fattah. Di antara isteri-isteri yang disebut-sebut dalam cerita sejarah Banten ialah Nyai Gede Ayu dan Ratu Nengah. Nyai Gede Ayu adalah putri seorang ponggawa yang karena amat cantiknya dapat inenarik perhatian Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Perkawinan dengan Ratu Ayu tersebut di-lakukan setelah isteri pertamanya meninggal yang dalam seja-rah Banten tidak disebutkan namanya. Di antara putra-putra Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah yang mencapai usia dewasa ialah Pangeran Purbaya dan Pangeran Gusti yang juga dikenal kelak dengan julukan Sultan Haji (Michrob, Halwany, dkk.1990).

Sejak Sultan Abul Fathi Abdul Fattah bertentangan dengan putranya yang bernama Sultan Haji atau Abu Nas’r Abdul Kohar itu, tatkala beliau telah mengundurkan din dan peme-rintahan sehari-hari, maka ia pergi ke Tirtayasa dan men-dirikan keraton yang baru di tempat itu. Sejak bersemayam di tempat mi ia dikenal dengan julukan Sultan Ageng Tintayasa, julukan inilah yang paling dikenal hingga kini di kalangan bang-sa asing, sebagaimana ternyata dan catatan-catatan sejarahnya
(Tjandrasasmita, 1967:9).

Sultan Abdul Mafakhin Abdul Kadir wafat pada tahun 1651 dan dibenitakan pula oleh cucunya itu kepada penguasa di Mek-kah. Untuk mempersiapkan utusan persahabatan itu, diperin-tahkan Mangkubumi Pangeran Mandura mengkabarkannya kepada Arya Mangunjaya, Mas Dipaningrat dan setiap warga. Mangkubumi memberitahukan kepada mereka bahwa sultan bermaksud menginimkan utusan ke Mekkah yaitu Santni Betot dengan tujuh orang lainnya. Utusan tensebut kecuali untuk me-nyampaikan surat benita wafat kakeknya, juga berniat mernperkokoh kedudukannya sebagai Sultan pengganti. Selang beberapa waktu lamanya maka utusan dan Banten sudah sam-pai dan kemudian kembali dan Mekkah. Utusan dan Mekkah sendiri yang datang bersama utusan Banten tendiri dan Sayid Au, Abdul Nabi, dan Haji Salim. Mereka itu kecuali membawa bingkisan juga membawa pesan untuk memberi gelar Sultan yang lengkapnya adalah: Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Sikap waspada terhadap musuh senantiasa jadi pedoman bagi Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Sikap tidak mau tunduk begitu saja terhadap kompeni Belanda tenlihat nyata dan usaha-usahanya melancarkan garilya-gerilya terutama di daerah Angke Tangerang yang sejak lama merupakan front terdepan, bahkan menurut berita dan kompeni Belanda sendiri Sultan.

Banten pada sekitar 1652 mengirimkan sejumlah besar tentaranya untuk mengadakan penyerangan terhadap kompeni Belanda di Jakarta. Memang benar Sultan Ageng Tirtayasa sejak memegang tampuk pemerintahan sebagai Sultan Banten sening menginimkan sejumlah besar tentaranya di daratan maupun di lautan untuk mangganggu kompeni. Peristiwa-peristiwa yang kecil-kecil selalu tenjadi di berbagai front tempat kedua belah pihak bertemu. Dengan demikian pihak kompeni Belanda mulai merasa khawatir, lebih-lebih perjanjian antara Jakarta dengan Banten yang dibuat awal bulan September 1645 yang hanus diperbarui masih menunjukkan tanda-tanda kegagalan dalam pembaruannya. Karena Banten terus melancankan gerilyanya, maka oleh kompeni Belanda dijawab dengan blokade pelabuhan-pelabuhan yang termasuk kesultanan Banten. Pada masa itu kapal-kapal asing lainnya yang hendak berdagang dan masuk di Banten terpaksa mengarahkan haluannya ke negara-negara lain. Sebaliknya, putranya yang bernama Sultan Abu Nas’r Abdul Kahar atau Sultan Haji berbeda haluan dan mudah dipengaruhi oleh kompeni Belanda sehingga kemerdekaan Ban-ten dikorbankannya.
(Michrob, Haiwany. 1992)

Keraton yang terletak di Tirtayasa itu letaknya amat strategis balk untuk perlawanan di lautan maupun di daratan karena tempat itu kecuali terletak di tepi pantai juga tenletak di jalan kuno yang dapat dipergunakan untuk manghubungkan serta mempercepat bantuan tentara-tentara yang dengan mudah mencapai daerah Jakarta. Dan Tirtayasa itulah Sultan Ageng Tirtayasa marencanakan dan melaksanakan pemba-ngunan di bidang pertanian dan pengairan.

Saluran yang mudah dilayari perahu-perahu kecil digali se-panjangjalan kuno, yakni dan sungai Untung Jawa (Cisadane), Tanara hingga ke Pontang. Diakui pula oleh Gubernur Jenderal John Maestsuyker dan Dewan Hindia bahwa pembuatan saluran air itu adalah untuk dipergunakan sewaktu-waktu untuk perjanjian, pengiriman utusan-utusan dan sebagainya. Karena kesibukan sehari-hari sudah kurang maka Sultan Ageng mulai bertempat tinggal tetap di keraton Tirtayasa. Sebenarnya dan tempat itu pula ia dapat mengawasi gerak-gerik putranya yang inemegang tampuk pemerintahan sehari-hari di Surosowan. Karena memang kekuasaan kesultanan Banten masih ada pada tangan Sultan Ageng Tirtayasa selaku Sultan tua. Keadaan mi pulalah yang digunakan untuk menghasut Sul-tan Haji supaya menentang kebijaksanaan ayahnya, dan men-dorong Sultan Haji untuk segera memperoleh kekuasaan penuh di Banten karena memang Sultan Haji sangat berkeinginan untuk itu.

Satu hal pula yang mengecewakan Sultan Ageng Tirtayasa, adalah surat ucapan selamat yang dikirimkan Sultan Haji atas, diangkatnya kembali Speelman menjadi Gubernur Jenderal VOC menggantikan Rijklof van Goens pada tanggal 25 Novem-ber 1680. Padahal pada saat itu Kompeni baru saja manghan-curkan pasukan gerilya Banten di Cirebon dan yang kemudian menguasai Cirebon seluruhnya.

Melihat keadaan anaknya yang sudah demikian itu, Sultan Ageng memobilisasikan pasukan perangnya untuk digunakan sewaktu-waktu. Rakyat dan daerah Tanahara, Pontang, Tir-tayasa, Caringin, Carita dan sebagainya banyak yang mendaf-tarkan din menjadi Prajurit. Demikian pula tentara pelarian dan Makasar, Jawa Timur, Lampung, Solebar, Bengkulu dan Cirebon bergabung dengan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa. Bahkan satu regu pasukan Sultan Haji yang diutus untuk menyelidiki kekuatan di Tirtayasa ikut pula bergabung dengan Sultan Ageng. Sultan sudah tidak perduli lagi dengan tentara dan barigsawan yang berpihak kepada Sultan Haji yang diang-gapnya sudah berpindah adat dan berbeda haluan.
(Ambary, Hasan, dkk. 1992)

Dalam suasana yang sudah demikian panas, Sultan Ageng mendengar khabar bahwa beberapa kapal Banten yang pulang dan Jawa Timur ditahan Kompeni karena dianggap kapal perompak. Tuntutan Sultan Ageng supaya mereka dibebaskan tidak diindahkan. Hal mi membuat kemarahan Sultan menjadi-jadi. Rasa harga din sebagai Sultan dan satu negara merdeka tenasa diremehkan. Maka diumumkannya bahwa Banten dan Kompeni Belanda ada dalam situasi perang. Keputusan Sultan Ageng mi ditentang oleh anaknya, Sultan Haji. Dia menyanggah atas dimaklumkannya perang atas Kom-peni Belanda, karena keputusan itu terlalu ceroboh dan tidak dimusyawanahkan terlebih dahulu dengannya. Dengan ben-modalkan dukungan pasukan Kompeni yang dijanjikan pada-nya, Sultan Haji memakzulkan ayahnya. Dikatakannya bahwa ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, sudah terlalu tua dan sudah pikun, sehingga mulai saat itu kekuasaan Banten seluruhnya dipegang oleh Sultan Haji.
(Hamka, 1976:307).

Melihat tingkah-laku anaknya itu dan juga untuk menyatukan kekuatan pasukan Banten guna menyerbu Batavia, maka pada tanggal 26 malam 27 Februari 1682 dengan dipimpin sendini oleh Sultan Ageng, diadakanlah penyerbuan ke Surosowan. Panyerbuan mendadak mi berhasil mematahkan pelawanan pasukan Sultan Haji yang dalam waktu singkat is-tana dapat dikuasainya. Sultan Haji sendiri melarikan din dan minta perlindungan kepada Jacon de Roy bekas pegawai Kom-peni (Tjandrasasmita, 1967:41)

Keadaan mi segera dapat diketahui Batavia. Maka pada tanggal 6 Maret 1682 dipimpin olëh Sam Martin dikirimkannya dua kapal perang lengkap dengan pasukan perangnya. Akhirnya setelah terjadi pentempuran yang lama dan dibantu pula oleh pasukan besar yang dipimpin oleh Kapten Francois Tack dan Kapten Hartsinck, Surosoan dapat dikuasai Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa dengan sisa pasukannya bergerak munidur ke Kademangan dan Tanahara. Baru pada tanggal 28-29 Desemben 1882 Tanahara pun dapat direbut pasukan Kompeni yang dipim-5 pin oleh Kapten Jonker. Demikian pulalah dengan Tirtayasa se-bagai pentahanan terakhin pasukan Sultan Ageng. Atas penintah Sultan Ageng, selunuh pasukan yang masih ada diharuskan mundur ke anah selatan ke hutan Keranggan. Tapi sebelumnya Sultan memenintahkan pula supaya istana dan bangunan lainnya di Tintayasa dibakar. Sultan tidak rela ha-ngunan-bangunan itu diinjak oleh kafin dan pendunhaka. (Tjandrasasmita, 1987:44)

Dan hutan Keranggan, Sultan Ageng Tirtayasa dan seluruh pasukannya melanjutkan perjalanan ke Lebak. Satu tahun me-neka melakukan perang genilya dan sana. Tetapi akhinnya Lebak pun dikepung, sehiagga pasukan Sultan Ageng tenpecah menjadi dua bagian. Pangeran Purbaya dan sejumlah ten-taranya bergerak di daerah sekitar Parijan, di pedalaman Tangerang. Sultan Ageng, Pangeran Kidul, Pangeran Kulon, Syekh Yusuf beserta pasukannya bengenak ke daenah Sajira di perbatasan Bogon.

Sultan Haji berusaha keras agar ayahnya dapat kembali ke Surosowan. Dengan petunjuk serta nasehat kompeni yang ingin melakukan tipu daya halus maka Sultan Haji mengirimkan surat kepada ayahnya di Sajira. Sesudah utusan pembawa surat itu datang di Sajira dan ditenima Sultan Ageng Tirtayasa, de-ngan tidak cuniga sedikit pun Sultan yang kala itu usianya sudah lanjut kembali ke Surosowan setelah ia bertahan di hutan. Tambahan pula seminggu sebelumnya yakni pada tang-gal 7 Maret 1683 Pangeran Kulon gugur ditikam oleh orang upahan kompeni. Sultan Ageng Tirtayasa dengan bebenapa pe-ngawalnya sampailah di Surosowan dan langsung menemui putranya yang telah menantikan kedatangan ayahnya. Peneni-maan Sultan Haji sangat balk meskipun di belakangnya telah ada maksud tertentu atas bujukan kompeni. Kedatangan di Surosowan itu tepat pada tanggal 14 Maret 1683 saat tengah malam. Tetapi setelah beberapa saat Iamanya tinggal di kenaton Surosowan ia ditangkap oleh kompeni untuk segera dibawa ke Jakarta. Memang itulah maksud dan tipu daya kompeni atas kerjasama dengan Sultan Haji. Jika Sultan Ageng Tintayasa dibiarkan berada di Surosowan maka dikhawatinkan oleh kom-peni Belanda akan dapat mempengaruhiSultan Haji yang sudah erat bekerjasama dengan kompeni.

Sultan Ageng Tirtayasa dimasukkan ke dalain penjara ber-benteng dengan penjagaan serdadu kompeni hingga meninggal di penjana pada tahun 1692. Jenazahnya oleh Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin (anaknya Sultan Haji) dan tenutama oleh nakyat Banten yang amat mencintainya dan mengakui sebagai pahiawan besan yang dengan gigihnya mempentahankan kemer-dekaan kesultanan Banten yang dimintakan kepada pemerintah tinggi kompeni Belanda untuk dikinimkan kembali. Kemudian dengan upacara keagamaan yang amat mengesankan Ia dimakamkan di samping Sultan-Sultan yang mendahuluinya di sebelah utara Mesjid Agung (Tjandnasasmita, 1967:46).

Sesudah masa Sultan Ageng Tirtayasa adalah menupakan masa sunutnya pengaruh politik kenajaan Banten. Banten telah ada dalam penganuh pengawasan Belanda. Sultan Ageng Tin-tayasa wafat di dalam penjara kompeni Belanda di Jakarta dan dimakamkan sebagai seorang pahlawan besar oleh raja dan rak-yat Banten serta dimakamkan di komplek makarn naja-raja Ban-ten yang terletak di sebelah utara serambi mesjid Agung Banten. Walaupun secara politis kekuasaan kerajaan dan peme-rintahan telah ada di tangan Belanda, namun pe~juangan dan syiar Islam masih tetap diteruskan oleh para pengikut yang setia kepada cita-cita perjuangan Sultan dan para pen-dahulunya. Perjuangan ternyata tidak terhenti walaupun sistem perjuangan yang dipakai sistem penang gerilya.

Ketika Sultan Ageng Tirtayasa wafat atas tipu daya Belan-da dan kerjasama Sultan Haji serta gugurnya Pangeran Kulon, semangat perjuangan menentang dominasi Belanda tidaklah barkurang. Hal mana menjadikan motivasi pejuang yang pro Sultan Ageng Tintayasa semakin meningkat kanena kekuasaan kerajaan Bariten di bawah Sultan Haji telah ada dalam peng-anuh politik Belanda. Jajanan pejuang terdini dan keluarga

kerajaan, pana ulama dan nakyat masih terus berjuang di hutan-hutan menentang kolonialisme Belanda. Tokoh gerilya itu dian-taranya adalah seorang ulama Banten asal Makasar yang diangkat
mufti kenajaan Banten semasa Sultan Ageng Tirtayasa yang bennama Syekh Yusuf.

SILSILAH SULTAN AGENG TIRTAYASA
ABDUL FATH ‘ABDUL FATTAH (1851-1872)
Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Fath ‘Abdul Fattah adalah putna Sultan Abdul Ma’ali Ahmad. Adapun Sultan Ageng Tin-tayasa Abdul Fath’ Abdul Fattah benputra:

1. Sultan Haji *)
2. Pg. Arya Abdul ‘Alim
3. Pg. Arya Ingayudadipuna
4. Pg. Anya Punbaya
5. Pangenan Sugiri
6. Tubagus Rajasuta
7. Tubagus Rajaputna
8. Tubagus Husen
9. Raden Mandaraka
10. Raden Saleh
11. Raden Sum
12. Raden Mesir
13. Reden Muhammad
14. Raden Muhsin
15. Tubagus Wetan
16. Tubagus Muhammad Athif

17. Tubagus Abdul
18. Ratu Baja Mirah
19. Tubagus Kulon
20. Ratu Kidul
21. Ratu Marta
22. Ratu Adi
23. Ratu Uinu
24. Ratu Hadijah
25. Ratu Habibah
26. Ratu Fatimah
27. Ratu Asyiqoh
28. Ratu Nasibah
29. Ratu Ayu

Kamis, 06 Oktober 2011

contoh teks pidato pernikahan (perempuan)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam sejahtera dan salam bahagia kami sampaikan juga kepada hadirin dan hadirat yang beragama lain.

Pertama-tama marilah kita mengucapkan syukur alhamdulillah, atas nikmat dan rahmat-Nya yang dilimpahkan kepada kita semua, sehingga pada malam yang berbahagia ini kita bisa mengadakan silaturahmi, khususnya dalam rangka ikut serta menyaksikan malam resepsi pernikahan putri kami (nama mempelai wanita) dengan putra (nama mempelai pria).

Selanjutnya puja dan puji juga kita sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad junjungan kita, semoga beliau senantiasa di temptakan di sisi Allah SWT sebagai umatnya yang paling mulia. Amin!

Atas nama ayahanda putri tercinta (nama mempelai wanita), yang pada malam hari ini duduk berdampingan dengan sang raja sehari (nama mempelai pria), kami mengucapkan selamat datang kepada rombongan pengantin pria, khususnya selamat datang kepada keluarga besar putra (nama mempelai pria). Semoga itikad baik saudara-saudara itu mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin!

Hadirin yang berbahagia, dengan disaksikan hadirin yang pada malam hari ini ikut berbahagia menyaksikan perkawinan putra berdua, kami atas nama bapak (nama ayah mempelai wanita) sekeluarga, dengan seizin Allah SWT, Insya Allah dengan tulus menerima keluarga besar Bapak (nama ayah mempelai pria) sebagai keluarga sendiri, sekaligus juga tentunya menerima putranda (nama mempelai pria) sebagaimana layaknya putra sendiri. Mudah-mudahan hubungan keluarga ini mendapat berkah dari Allah SWT hingga di akhirat kelak. Amin!

Kepada putranda (nama mempelai pria), sebagai seorang suami tentunya sepenuhnya bertanggung jawab terhadap seorang istri. Oleh sebab itu kami serahkan nanda (nama mmpelai wanita) kepadamu, pergaulilah istrimu sebagaimana engkau menggauli dirimu sendiri, kasihilah istrimu sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri. Insya Allah hidupmu akan bahagia hingga akhir hayat di kandung badan. Amin!

Hadirin yang kami hormati, atas nama keluarga Besar (nama ayah mmpelai wanita) juga menyampaikan terima kasih yang tak terhingga, atas ringan kaki, dan berbagai bantuan lainnya, dalam ikut serta berbahagia bersama kami, khususnya dalam rangka ikut mnyaksikan sekaligus memberikan doa restu semoga pengantin yang berbahagia ini senantiasa hidup rukun berdampingan penuh berkah dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pemurah. Amin!

Akhirnya, atas nama Bapak (nama ayah mmpelai wanita) sekeluarga kami mohon maaf, jika ada sesuatu yang kurang berkenan dalam acara resepsi malam ini.

Billahitaufiq walhidayah, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

contoh teks pidato pernikahan

Bismillahi rakhmanirrakhim
Assalamu’alaikum warakhmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, dipanjatkan segala puji syukur kehadhirat Allah sabhanahu wataala. Allah yang maha pengasih dan penyayang. Allah yang maha pemurah pencurah rahmah, – maha pencipta kasih sayang. Dengan limpahan rahmatNya jua kita berkumpul disini untuk acara pernikahan ananda tercinta……………. dengan ……… ( nama lengkap ).
Kita ucapkan Shalawat dan salam atas junjungan kita, yang mulia rasulullah Muhammad salallahu alaihi wassalam, para sahabat dan kerabat, para khulafaurrasyidin, para aulia yang membimbing dan memberi contoh tauladan akhlakul karimah.

Para hadirin undangan yang terhormat,
Kami sekeluarga menyampaikan terima kasih yang tak terhingga atas perkenan para hadirin undangan semuanya untuk hadir pada acara hari ini.
Dalam kesempatan ini perkenakanlah kami menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya atas kehadiran Bapak – Ibu – hadirin semua pada acara pernikahan anak kami : ananda …………………. dengan ananda ……………. ( nama lengkap ).

Tiada kata yang sempurna untuk mengungkapkan perasaan kami sebagai orang tua pada saat ini, kecuali merasa bangga, terharu dan bahagia.
Kami merasa bangga karena telah sampai pada pelaksanaan tanggung jawab menghantarkan anak kami kepada bentuk kehidupan baru, kehidupan membentuk satu keluarga baru yang meneruskan generasi dan tradisi keluarga ini.

Ananda………………………,
Abah dan mama, merasa terharu atas ungkapan bakti ananda sebagaimana yang ananda ucapkan. Suatu ungkapan perasaan yang menunjukan sikap yang matang, dewasa dan bijaksana.
Abah dan mama merasa sangat berbahagia bahwa ananda telah menentukan pilihan teman pendamping dalam menjalankan bahtera kehidupan, membentuk keluarga sakinah – mawaddah wa rohkmah.
Sesunguhnya bagi abah dan mama, rasa bahagia ini sudah terpancar sejak ananda masih dalam kandungan.

Memang sang waktu berlalu sedemikian cepat dan telah kita lalui.
Dan dalam perjalanan waktu, terdapat berbagai suka duka romantika kehidupan.
Tiada harapan dan keinginan lain abah dan mama, kecuali kebahagian ananda.

…………………dan ananda ……………..
Dengan ini Abah dan Mama memberikan restu atas pernikahan ananda. Seluruh keluarga dengan ini memberikan restu dan memanjatkan do’a agar ananda berdua mendapat berkah dan inayyah dari Allah SWT.

Kami sekeluarga juga memohonkan agar bapak – ibu – saudara hadirin undangan yang terhormat, berkenan memberikan doa restunya kepada anak kami tercinta. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih

Anak kami seperti juga semua kita, akan membetuk keluarga yang saling mencintai dengan tulus ikhlas antara suami istri, cinta dan kasih sayang yang disebut sebagai keluarga mawaddah.
Sebab dengan saling kasih mengasihi, saling sayang menyayangi, saling hormat menghormati, menjaga kehormatan suami , menjaga kehormatan isteri. Dari situlah akan membangkitkan suasana ketenangan keluarga, ini namanya keluarga sakinah. Satu keluarga tempat berbagi suka dan duka dalam menempuh kehidupan.
Mawaddah dan sakinah akan memancarkan rahmah, menebarkan kasih sayang kepada lingkungan sekelilingnya. Berbelas kasih , berbagi kebahagian atau menebarkan kasih sayang dan kedamaian kepada sekelilingnya. Itulah tujuan pernikahan ananda berdua.

Sungguh indah dan mulia tujuan pernikahan itu. Besar harapan kami semua, untuk ananda berdua bahwa apapun yang terjadi, kembalilah kepada tujuan pernikahan ananda berdua. Berupayalah agar tujuan mulia pernikahan ananda berdua tetap terjaga hingga akhir hayat.

Ananda …………., Abah dan mama berpesan, cintailah istrimu, hormatilah dia, jagalah kehormatannya, berilah dia ketenangan dan kedamaian dalam rumah tanggamu.
Ananda ……………., cintailah suamimu, hormatilah dia, jagalah kehormatannya, berilah dia ketenangan dan kedamaian dalam rumah tanggamu.

Sebagai pasangan suami isteri, jadilah orang-orang yang mengasihi dan menyayangi orang-orang yang ada disekiling kalian, yang telah membantu kalian, yang telah mendidik dan merawat kalian. Insya Allah berbuat baik dan berkasih sayang, akan mendatangkan kebaikan dan kasih sayang yang berlimpah untuk ananda berdua.

Kepada para undangan yang kami hormati, sekali lagi sudilah kiranya Bapak – Ibu da saudara sekalian, memberikan do’a dan restu kepada kedua mempelai, agar apa yang mereka cita-citakan sebagai sepasang suami-istri dapat tercapai, agar mereka tuntung pandang , agar mereka langgen dan dapat membina keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

Marilah kita semua memanjatkan doa untuk kedua mempelai :
BarakaLLahu laka - wa baraka ‘alaika - wa jama’a bainahuma fii khoiriin. Amiin Ya Rabbal ‘alamiin.

Demikianlah kata sambutan kami. Mohon maaf yang sebesar-besarnya bila terdapat kesalahan dan kekhilafan kami.

Al haqqu mir Robbikum Wassalaamu ‘alaikum Wa rahmatullahi Wa barakatuh.

Rabu, 05 Oktober 2011

JUJUR ITU INDAH

JUJUR ITU INDAH

Konon di sebuah desa pinggiran kota hiduplah seorang pengembala miskin bernama Salim. Ia tinggal di sebuah gubuk reot bersama kedua orang tuanya. Setiap pagi Salim menggiring kambing-kambingnya di tanggul sungai dekat rumahnya yang subur ditumbuhi rumput hijau, sore menjelang maghrib barulah pulang.

Walaupun hidup miskin dan serba kekurangan, Salim memiliki sifat mulia yang telah di tanamkan oleh kedua orangtuanya sejak ia masih kecil, yaitu kejujuran. Kejujurannya yang tinggi membuat Salim disenangi banyak orang, hingga ada seorang kaya di desa itu yang ikhlas membiayai sekolahnya hingga tamat SMA. Setelah tamat SMA Salim memutuskan untuk tetap tinggal di desa menemani kedua orangtuanya yang sudah tua dan sakit-sakitnan.

Siang itu Salim duduk di pinggir sungai memandangi kambing-kambingnya yang sedang merumput, sesekali ia memandang air sungai yang mengalir dengan tenang. Tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu di hulu sungai. Setelah ia amati ternyata buah durian sebesar kepala mengapung terbawa arus.

“Wow! Durian!...” Salim langsung menceburkan diri ke sungai untuk mendapatkan buah itu.

Dibukanya durian itu, lalu ia melahapnya dengan nikmat. “Hmm, enak…pasti baru jatuh dari pohon”

Dalam waktu singkat durian itu hanya tinggal biji dan kulitnya. Salim kekenyangan, ia merebahkan tubuhnya di hamparan rumput.

Tiba-tiba ia terngiang oleh ajaran orangtuanya,”Salim, Jangan sekali-kali kamu makan sesuatu yang bukan hakmu. Itu haram! Makanan haram yang kamu makan kelak di akhirat akan menjadi api yang membakar perutmu…” Salim terhenyak sambil memegangi perutnya. Naluri kejujurannya membuat ia gelisah,”Waduh, bagaimana kalau durian tadi ada yang punya?”

“Ah, aku kan tidak mencuri, aku hanya menemukan durian hanyut yang mungkin sudah direlakan oleh pemiliknya”

“Tapi, bagaimana seandainya pemilik durian tidak rela? Celakalah aku! Perutku akan dibakar api! Oooh…gara-gara sebuah durian membuatku menderita di akhirat. Tidak! Aku tidak boleh tinggal diam. Akan kucari siapa pemilik durian itu. Aku akan memohon agar ia mau merelakan buah durian yang telah aku makan.”

Salim segera menggiring kambing-kambingnya ke kandang. Ia menceritakan kejadian itu pada orang tuanya serta memohon ijin. Setelah itu ia berjalan menelusuri sungai. Matanya mencari-cari siapa tahu ada pohon durian yang tumbuh di pinggir sungai. Setelah sekian lama berjalan barulah Salim menemukan apa yang ia cari, sebuah kebun yang ditumbuhi pohon-pohon durian dengan buahnya yang lebat.

“Assalamu ‘alaikum” sapa Salim kepada seorang laki-laki setengah baya yang sedang menyapu di dalam kebun durian.

“Wa’alikumussalam….” Jawabnya.

“Apakah Bapak yang memiliki kebun ini?”

“Betul, namaku Haji Abdulloh pemilik kebun di sekitar sini. Kamu siapa?”

“Saya Salim dari desa sebelah….” Ia pun menceritakan kejadian yang berawal dari ketika ia menemukan durian hanyut di sungai sampai perasaan berdosa yang menghantuinya, hingga mendorongnya untuk mencari pemilik durian itu dan memohon kerelaan atas durian yang telah ia makan. Haji Abdulloh manggut-manggut mendengar penuturan Salim dari awal hingga akhir. Ia salut akan kejujuran Salim. Dalam hati ia berkata,

“Hmm baru kali ini aku melihat seorang pemuda yang benar-benar jujur dan amanah. Sampai sejauh ini berjalan kaki, hanya untuk memohon kerelaanku atas durian yang ia temukan di sungai dan telah habis ia makan. Sebetulnya aku sudah merelakan semua buah-buahan di kebunku yang jatuh dari pohon untuk diambil siapapun. Apalagi sudah hanyut di sungai. Tapi baiklah, aku ingin menguji sampai dimana kejujuran dan kesungguhan dia untuk meminta kerelaanku”

“Salim, kalau memang kamu ingin mendapatkan kerelaan dariku, aku bersedia mengikhlaskan buah durian yang telah kamu makan tetapi setelah kamu melaksanakan syarat yang kuberikan.”

“Seberat apapun syaratnya, Insya Alloh saya sanggup melaksanakan, yang penting di akhirot kelak perut saya tidak dibakar api.”

“Baiklah, kamu harus membantu saya bekerja disawah dan merawat kebun ini selama satu tahun. Bagaimana?”

“Saya menerima syarat itu”

Keesokan harinya Salim mulai bekerja membantu Haji Abdulloh. Selesai sholat subuh ia sudah berangkat ke kebun Haji Abdulloh. Semua pekerjaan ia lakukan dengan rajin, tekun dan penuh semangat seolah tidak mengenal capek. Ia hanya beristirahat untuk sholat dan makan siang, lepas maghrib barulah ia pulang. Kebun Haji Abdulloh terawat dengan baik. Salim tidak menyadari bahwa diam-diam Haji Abdulloh selalu memperhatikan saat ia bekerja. Ia kagum dengan kesungguhan salim dalam melaksanakan syarat yang diberikannya, kerjanya keras, rajin dan tidak pernah mengeluh sedikitpun.

“Tidak seperti umumnya pemuda jaman sekarang, senang tidur, berfoya-foya, hura-hura tapi malas bekerja. Mereka hanya menyusahkan orang tua, minta uang seenaknya. Salim memang lain…”

Waktu berjalan begitu cepat, setahun sudah Salim mengabdi pada Haji Abdulloh. Namun Salim berniat ingin menambah pengabdian sebulan lagi sebagai tanda syukurnya bahwa durian yang ia makan tahun lalu, akan mendapat ridho pemiliknya. Selama bekerja pada Haji Abdulloh, Salim telah meninggalkan kesan baik yang tidak bisa dilupakan olehnya.

“Kalau saja Salim mau, aku ingin ia tetap tinggal bersamaku selamanya…”

Haji Abdulloh tidak bisa memungkiri dirinya bahwa ia telah terpikat oleh kebaikan budi pekerti dan kejujuran Salim. Ia memutuskan untuk menjadikan Salim menantunya. Istri Haji Abdulloh pun setuju. Namun sekali lagi Haji Abdulloh ingin menguji kejujuran dan ketulusan hati Salim.

Suatu sore ia memanggil Salim, “Salim, aku menyaksikan bahwa kamu telah sungguh-sungguh melaksanakan syarat yang kuberikan selama satu tahun bahkan kamu menambahkan lagi selama satu bulan. Namun aku belum sepenuhnya merelahkan durian itu sebelum kamu melaksanakan satu syarat lagi”

“Pak Haji, saya sudah bertekad bahwa apapun syarat yang Pak haji berikan Insya Alloh akan saya terima demi mendapat keridhoan dari Pak haji, sehingga di akhirot kelak perut saya tidak dibakar oleh Alloh”

“Baiklah, syarat berikutnya adalah kamu harus menikahi putriku yang sekarang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren. Tapi kamu harus tahu bahwa putriku itu buta matanya, tuli dan bisu. Bagaimana?”

“Kalau memang dengan cara begitu Pak Haji bisa ridho, Insya Alloh akan saya jalani”

Akhirnya pada saat yang ditentukan, pernikahan antara Salim dengan putri Haji Abdulloh dilaksanakan. Para undangan memadati ruang tamu. Acara pernikahan pun berlangsung tertib dan khidmat dengan menggunakan adat Betawi. Wajah mempelai wanita tertutup rapat dengan pakaian adat. Selama prosesi dilakukan dengan menggunakan isyarat karena diketahui bahwa mempelai wanita kondisinya buta, bisu dan tuli.

Di malam pengantin, jantung Salim berebar kencang. Para tamu sudah pulang, Pak Haji dan istrinya terlelap karena kecapekan. Kini, didalam kamar pengantin hanya tinggal Salim dan putri pak haji, tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dengan berdebar-debar ia mendekati istrinya, ia telah mempersiapkan mental untuk bisa menerima istri yang cacat. Dengan lembut ia membuka penutup wajah istrinya, Lalu….

“Haah??...” Salim terpengaruh demi melihat seorang gadis berparas cantik di depannya, mata bersinar dengan bulu mata yang lentik…..

“Assalamu ‘alaikum suamiku. Alloh telah memilihku untuk menjadi istrimu. Aku siap melayanimu….”

Seorang Salim yang jujur dan amanah bukan malah gembira melihat keadaan ini. Ia takut. Jangankan menyentuh, mendekatpun tidak berani. Pikirannya berkecamuk.

“Kenapa bisa begini? Istriku kan buta, bisu dan tuli. Dan dia memang cantik dan sempurna tapi aku tidak boleh melakukannya. Aku tidak mau berzina. Dia bukan istriku, siapa dia? Mengapa berada dikamarku? Dimana istriku yang sebenarnya?”

Salim menghambur keluar menuju teras rumah. Ia memikirkan kejadian yang baru dialaminya, lalu ia tertidur sampai terdengar Adzan subuh. Ketika pak haji membuka pintu untuk sholat subuh di masjid ia terkejut demi melihat Salim meringkuk di atas kursi.

“Salim, bangun. Salim…”

“Oaaaahm, i-iya pak,” dengan mata yang masih mengantuk ia menceritakan kejadian semalam.

“Saya tidak mengerti, kenapa semalam istri saya yang buta, bisu dan tuli tidak ada di kamar, yang ada hanya seorang perempuan cantik yang berusaha menggoda saya. Ini tidak lucu”

Haji Abdulloh tersenyum, ia bangga dengan kesucian hati Salim,”Fatimah! Kemarilah….”

Gadis cantik yang ditemuinya semalam muncul di hadapan Salim.

“Salim. Fatimah adalah anak gadisku satu-satunya. Dialah istrimu sebenarnya. Adapun aku mengatakan ia buta, bisu dan tuli hanyalah sekedar kiasan. Selama ini putriku tinggal di pondok pesantren, ia buta dari hiburan-hiburan televisi dengan acara yang mengarah pada kemaksiatan, kemusyrikan dan kesesatan. Bisu dari pembicaraan jelek, mencela, menghujat dan menfitnah. Dan ia tuli dari pendengaran yang maksiyat, fitnah dan nyanyian-nyanyian syirik. Setiap hari ia hanya mendengar ayat-ayat Alloh. Dia adalah Fatimah. Berbahagialah anakku. Fatimah, Insya Alloh engkau akan menjadi seorang istri yang sholihat. Dan kau Salim, Insya Alloh engkau akan menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab. Semoga Alloh menjadikan kalian keluarga yang sakinah.” (TPQ KHOIRUL HUDA – KERTOSONO)

Selasa, 04 Oktober 2011

pelajaran dari alam


Menurut para pakar yg mengamati proses perkawinan ayam & bebek bahwa di katakan ayam setelah melakukan perkawinan dia langsung lari ,sedang kan bebek setelah melakukan perkawinan dia langsung mandi, hmm ….. sebuah pelajaran beharga dari alam sekitar kita. Manusia  ??????????? lari atau tidok. kalo yg lari pecaknyo klo sdh ngenjuk duit ......

WUDHU LAHIR-BATIN

Seorang ahli ibadah bernama Isam Bin Yusuf, sangat waras dan khusyuk sholatnya. Namun, dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggap lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasaikan kurang khusyuk.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seseorang bernama Hatim Al-Assam dan bertanya, "Wahai Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan sholat?"Hatim berkata, "Apabila masuk waktu solat, aku berwudhu lahir dan batin."
Isam bertanya, "Bagaimana wudhu lahir dan batin itu? "

Hatim berkata,"Wudhu lahir sebagaimana biasa yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sementara wudhu batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara, yaitu:
* Bertaubat
* Menyesali dosa yang telah dilakukan
* Tidak tergila-gilakan dunia
* Tidak mencari/mengharap pujian orang (riya')
* Tinggalkan sifat berbangga
* Tinggalkan sifat khianat dan menipu
* Meninggalkan sifat dengki."

Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku rasakan:
1.aku sedang berhadapan dengan Allah,
2.Surga di sebelah kananku,
3.Neraka di sebelah kiriku,
4.Malaikat Maut berada di belakangku, dan
5.Aku bayangkan pula aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Shiratal mustaqim' dan menganggap bahwa sholatku kali ini adalah sholat terakhir bagiku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik."

"Setiap bacaan dan doa didalam sholat, aku paham maknanya kemudian aku ruku' dan sujud dengan tawadhu, aku bertasyahud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersholat selama 30 tahun."

Apabila Isam mendengar, menangislah dia karena membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.